Lentera ARA

Keluarga Kecil yang Penuh dengan Kebahagian dan Berkah

Pandangan PICIK May 14, 2007

Filed under: kisah & cerita — lenteraara @ 04:19

Sep 21, ’06 12:20 PM
PICIK

Si Tengah berangkat ke sekolah dengan antar jemput bis khusus, milik
sekolahnya. Sebenarnya jarak ke sana tidaklah terlalu jauh. Hanya saja jalan
yang mendaki cukup terjal dan panjang, sekitar 700-800 m. Untuk mendaki tiap
hari sambil mendorong kereta bayi si bungsu, cukup berat buat saya. Selain
itu, untuk pergi dan pulang, waktu pagi saya akan tersita paling sedikit
satu jam tiap harinya. Si tengah juga sudah capek duluan kalau dibawa jalan
kaki.

Baru empat kali si tengah menumpang bis itu. Kali pertama saya ikut
menemaninya. Naik bis kecil itu, yang dipenuhi sekitar 20-30 anak kecil.
Supirnya seorang bapak berusia sekitar 50-an. Rambutnya sudah agak
keabu-abuan. Ketika baru tiba di TK, bapak ini menghampiri saya dan
menanyakan, apakah si tengah sebelum ini sudah pernah masuk TK yang lain?
Saya katakan, tidak, ini yang pertama. Ketika bapak itu berlalu, sepenggal
tanya terendap dalam hati saya, mengapakah seorang supir memerlukan
informasi itu?

 

Setahu saya, orang Jepang sangat tidak suka bertanya hal-hal
yang di luar keperluannya, apalagi kepada orang yang baru dikenal. Bapak itu
berlalu dari hadapan saya dengan setelan pakaian yang sangat sederhana
: sepatu sport yang sudah pudar warnanya, celana biru tua pekerja dan baju
kaos berkerah yang warnanya juga sepintas sudah pudar.

Ketika saya akan meninggalkan TK itu, saya salah mencari pintu keluar. Saya
mengira gerbang masuk yang tadi dilewati bis sekolah, itu juga gerbang untuk
pejalan kaki biasa. Namun gerbang itu tergembok. Kembali bapak itu datang,
setengah berlari tergopoh-gopoh sambil menenteng ember siraman bunga,
menjelaskan pintu keluar yang lain, yang biasa dipakai orang keluar masuk.

Suatu sore, di hari kedua si tengah sakit dan tidak masuk sekolah, telepon
berdering. Suara di seberang adalah milik seorang Jepang, laki-laki, dan
rasanya saya pernah mendengarnya. Ternyata dari kepala sekolah TK si Tengah.
Saya belum pernah bertemu dengannya. Dia menanyakan tentang kesehatan si
Tengah. Itu saja, dan mendoakan agar si Tengah cepat sembuh dan bisa
mengikuti hari olahraga atau biasa disebut *undoukai*.

Ketika telepon ditutup, sebuah tanya terendap di dalam hati saya. Ah, masak
sih? Tapi, suaranya mirip! Penasaran, saya tanya si Tengah : apakah supir
bis itu adalah kepala sekolah? Dia menjawab, iya. Saya tetap tidak percaya.
Ketika suami pulang, saya juga tanyakan hal yang sama. Suami tak tahu,
karena suami tak pernah bertemu dengan supir bis, sebaliknya pernah bertemu
kepala sekolah saat si Tengah diwawancarai menjelang masuk.

Akhirnya hari ini saya ke TK lagi. Pakai taksi, karena tak ingin merepotkan
seisi bis itu : sudah sempit, kedatangan orang yang tak punya tempat duduk,
plus bawa kereta bayi pula. Saya menunggu di ruang kepala sekolah. Ada
surat-surat yang harus saya serahkan dan meminta sedikit penjelasan. Aneh,
di sekolah si Sulung, kepala sekolah biasanya datang lebih awal dari
murid-murid. Guru-guru yang lain sudah aktif menemani anak-anak, dan
beberapa bekerja membereskan barang-barang atau mengetik di ruang
administrasi.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara laki-laki di pekarangan sekolah,
memberi salam selamat pagi pada anak-anak. Supir bis itu melintas. Dan guru
yang mendampingi saya di ruangan berkata, “Kepala sekolah sudah datang!”

Saya, ah, saya ini memang orang Indonesia. Yang terlanjur ikut ‘tradisi yang
membesarkan saya’ : memberi tingkatan-tingkatan derajat orang dari cara
berpakaian dan jenis pekerjaan. Terus terang, kemarin-kemarin saya melihat
bapak itu hanya sebagai supir bis. Tak lebih. Sekarang paradigma berpikir
saya tentang bapak itu berubah total.

Saya terlalu picik untuk belajar dari pengalaman bertahun-tahun tinggal di
sini. Ini negara yang efektif. Sedikit tenaga untuk menyelesaikan banyak
pekerjaan. Karena mereka tak biasa magabut : makan gaji buta. Bayangkan
kalau di Indonesia : niscayalah, beda tukang kebun sekolah, beda tukang
bersihkan wc, beda supir bis, beda guru, beda kepala sekolah.

Saya baru teringat lagi pengalaman melahirkan anak pertama di rumah sakit
Jepang. Suster professional yang menangani kelahiran saya seorang diri, saya
ulangi : SEORANG DIRI, dia jugalah yang mengambil sampah di kamar pasien,
juga mengantarkan makanan pasien dari kereta makan yang ditaruh di koridor
luar kamar ke tempat tidur pasien.

Sekarang, cobalah kita mengukur itu semua ke dalam diri kita. Apakah kita
masih lebih banyak mengharapkan orang lain memanjakan kita, untuk
pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya bisa kita kerjakan sendiri? Ceklah
kelakuan kita di dalam rumah. Entah kita sebagai ibu, sebagai anak, sebagai
suami, atau sebagai istri. Barangkali tak sedikit kefeodalan yang kita
jalankan hanya karena status-status itu. Mengapa rumah? Karena di rumahlah
warna asli kita pasti terlihat, tidak bisa *jaim* alias *jaga image* :
tidak bisa memakai kostum atau topeng apapun.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s