Lentera ARA

Keluarga Kecil yang Penuh dengan Kebahagian dan Berkah

Cinta Lelaki May 23, 2007

Filed under: kisah & cerita — lenteraara @ 03:37

“Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar, solid dan (sayangnya) rentan.
Sewaktu-waktu ia bisa saja meletus, memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya.
Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tetapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia akan tumbuh dan tumbuh lagi.”
Betapa menakjubkan!
Perumpamaan di atas terilhami dari sebuah dialog dalam adegan film “Bulan Tertusuk Ilalang” karya Garin Nugroho.

Ini mengingatkan kenangan saya pada seorang teman dan ibunya ketika masa-masa SMP-SMU.

Kala itu, hampir setiap hari saya mengunjungi rumahnya. Teman saya anak orang berada. Ayahnya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Saya tak heran mendapati benda-benda bagus dan bermerek di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi. Seperangkat sofa indah yang empuk, televisi yang besar. Terkadang saya dibuat berdecak kagum, sekaligus iri. Semakin sering saya bertandang ke rumahnya, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah nan megah
itu semakin kosong dari hari ke hari. Perabotan mewah, satu per satu lenyap dan televisi yang ‘mengkerut’ dari 29 inchi ke 14 inchi.


Perubahan paling mencolok adalah wajah ibu teman saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak sengaja saya melihat suatu kenyataan bahwa ibu teman saya itu kini ompong!
Barangkali 2-3 gigi depannya hilang. Saya tak berani -lebih tepatnya tak tega – untuk bertanya. Saya juga tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas, sebuah suara, jauh di lubuk hati saya berkata : “Sesuatu yang mengerikan telah terjadi di rumah itu!”

Benarlah! Tanpa diminta akhirnya teman saya datang berkunjung ke rumah. Setengah berbisik, ia bercerita bahwa ayahnya selingkuh dan karenanya, hampir tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggungjawaban ayahnya. Dengan emosional teman ini bercerita, bahwa ia diajak ayahnya ke rumah perempuan itu dan meminta teman saya untuk memanggilnya dengan sebutan “Mama”.

Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh teman saya. “Ibuku cuma satu” tangkisnya tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi ibunya yang ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat ulah ayahnya. Dan setengah frustrasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung semua beban berat itu
sendirian, karena kakak satu-satunya yang kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu.

Ibunya yang lemah lembut pun tak bisa berbuat banyak dengan perilaku suaminya. Ia cuma bisa pasrah. Gigi yang tanggal itu buktinya. Saya hanya mampu berharap dan memberi semangat agar teman saya itu tabah dan tak putus berdoa.

Setelah peristiwa itu lama berlalu, Tuhan menjawab doa teman saya. Ketika itu menjelang kelulusan SMU. Ia bercerita pada saya bahwa ayahnya sudah ‘sembuh’, bertobat, dan kembali ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Nasib ‘the other woman’ itu entah bagaimana? Sampai di sini persoalan beres. Dan saya takjub mendengarnya.
Senang sekaligus heran. Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu?
Nurani keadilan saya berontak. Tak habis pikir, betapa mudahnya ibu teman saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah semua yang dilakukannya.
Lelaki itu tak cuma berkhianat, menyakiti hati isterinya, tapi juga melakukan kekerasan fisik dengan merontokkan gigi-gigi depannya. Tak menafkahi anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya. Dan ibu teman saya memaafkannya begitu saja!
Sebuah kenyataan yang ternyata banyak juga saya temui di masyarakat kita.

Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan kata ‘maaf’. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “cinta”??

Ayah teman saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung,dan ketika ia meletus, laharnya meluap kemana-mana, menghanguskan apa saja, melukai fisik dan terutama hati dan jiwa isteri serta anak-anaknya.

Ibu teman saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku. Memang cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap tumbuh dan tumbuh lagi.

Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin tak cuma dimiliki oleh ibu teman saya. Cinta yang terwujud dalam sebuah sikap yang agung : “Memaafkan”. Sebuah tindakan yang perlu enerji, kekuatan yang besar, yang anehnya banyak dimiliki oleh makhluk (yang katanya) lemah bernama perempuan.
Yang masih tersisa dan mengganjal di hati saya adalah : Apakah ini benar-benar tindakan memaafkan yang tulus atau hanya karena tidak ada pilihan lain??
Hanya Tuhan jua Yang Maha Mengetahui.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s